Nagari Biaro Gadang - TPP Agam : BUMNag bukan sekadar lembaga usaha milik nagari yang mengejar keuntungan. Lebih dari itu, BUMNag merupakan instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat yang harus dikelola secara profesional, transparan, dan mampu menjawab kebutuhan nagari. Karena itu, evaluasi kinerja menjadi salah satu tahapan penting agar perjalanan usaha tetap berada pada jalur yang benar.
Semangat itulah yang mewarnai Evaluasi Kinerja BUMNag Biaro Gadang Sakato Semester 1 Tahun 2026 yang dilaksanakan pada 27 Juli 2026 di Kantor Nagari Biaro Gadang. Kegiatan ini dihadiri oleh Sekretaris Nagari Biaro Gadang Hendriko, Pengawas dan Pengurus BUMNag Biaro Gadang Sakato, perangkat nagari, serta Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Ampek Angkek, yaitu Irawati dan Surya Putra.
Pertemuan ini bukan sekadar membahas laporan administrasi. Lebih dari itu, evaluasi menjadi ruang belajar bersama untuk melihat kondisi riil usaha, mengidentifikasi tantangan, sekaligus menyusun langkah yang lebih matang dalam mengembangkan BUMNag ke depan.
Evaluasi Kinerja BUMNag Biaro Gadang Sakato Menjadi Momentum Memotret Kondisi Nyata
Membuka kegiatan, Sekretaris Nagari Biaro Gadang, Hendriko, menegaskan bahwa evaluasi merupakan bagian penting dari tata kelola BUMNag yang sehat.
"Evaluasi bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk mengetahui kondisi sebenarnya sehingga keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan fakta di lapangan," ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah BUMNag tidak hanya diukur dari besarnya modal yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan pengurus melakukan evaluasi secara berkala serta berani memperbaiki kelemahan yang ditemukan.
Suasana diskusi berlangsung terbuka. Setiap peserta diberi kesempatan menyampaikan pandangan maupun masukan terhadap perkembangan usaha yang sedang dijalankan.
Usaha Konveksi Masih Menjadi Tulang Punggung, Namun Perlu Penguatan Tata Kelola
Direktur BUMNag Biaro Gadang Sakato memaparkan bahwa hingga Semester I Tahun 2026, usaha yang masih berjalan adalah kerja sama di bidang konveksi. Nilai persediaan barang yang tersedia diperkirakan mencapai sekitar Rp105 juta.
Persediaan tersebut menjadi aset yang harus dikelola secara optimal agar tidak hanya menjadi stok di gudang, tetapi mampu menghasilkan perputaran usaha yang sehat.
Selain mempertahankan usaha yang ada, BUMNag juga mulai merencanakan pengembangan usaha baru sesuai hasil Musyawarah Nagari, yaitu melalui kegiatan ketahanan pangan berupa budidaya jagung dan ayam KUB.
Rencana tersebut mendapat perhatian serius seluruh peserta karena usaha baru tentu memerlukan perencanaan yang matang agar tidak menimbulkan risiko kerugian.
Baca Juga : Evaluasi Kinerja BUMNag Panampuang Saiyo: Dari Evaluasi Lahir Langkah Nyata Membangkitkan Usaha Nagari
Dana Idle dan Kerja Sama yang Jelas Menjadi Sorotan Evaluasi
Dalam sesi diskusi, Ketua Pengawas BUMNag Biaro Gadang Sakato, Rinaldi, menyampaikan bahwa usaha konveksi memiliki karakter pasar yang musiman. Penjualan cenderung meningkat pada waktu-waktu tertentu, terutama menjelang tahun ajaran baru.
"Pendapatan dari konveksi memang ada, tetapi sifatnya musiman. Karena itu kita perlu memastikan BUMNag memiliki sumber pendapatan yang lebih stabil dan mekanisme kerja sama yang jelas," ungkapnya.
Ia juga menyoroti besarnya dana BUMNag yang masih mengendap di rekening bank. Menurutnya, dana tersebut semestinya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan usaha yang lebih produktif sepanjang tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.
Masukan ini menjadi refleksi penting bahwa modal yang besar tidak otomatis menghasilkan keuntungan apabila belum mampu diputar menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan nilai tambah.
Peran Pendamping Menguatkan Proses Pengambilan Keputusan
Dalam proses pendampingan, TPP Ampek Angkek tidak hadir untuk menentukan arah usaha BUMNag. Peran pendamping lebih difokuskan pada memfasilitasi diskusi agar setiap keputusan diambil berdasarkan data, aturan, dan pertimbangan yang matang.
Pendamping mengingatkan bahwa kerja sama dengan pihak ketiga perlu dituangkan secara jelas, mulai dari bentuk kerja sama, kepemilikan persediaan barang, hingga mekanisme pembagian keuntungan. Kejelasan administrasi menjadi pondasi penting untuk menjaga akuntabilitas BUMNag.
Selain itu, pendamping juga mendorong agar persediaan barang konveksi yang cukup besar dapat dipasarkan secara lebih aktif. Momentum kebutuhan pakaian sekolah yang sedang tinggi dapat dimanfaatkan dengan melibatkan pengurus, perangkat nagari, maupun jaringan masyarakat dalam membantu pemasaran.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengembangan usaha BUMNag bukan hanya tanggung jawab direktur semata, melainkan memerlukan kolaborasi seluruh unsur nagari.
Baca Juga : 7 Kesalahan Pengelolaan BUMDes yang Sering Terjadi
Rencana Ketahanan Pangan Harus Dikaji Secara Matang
Salah satu pembahasan yang paling banyak mendapat perhatian adalah rencana penyertaan modal kepada BUMNag sebesar Rp107 juta melalui program ketahanan pangan.
Pendamping mengingatkan bahwa sebelum penyertaan modal dilaksanakan, terdapat sejumlah persyaratan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Di antaranya adalah laporan pertanggungjawaban keuangan Tahun 2025 yang telah dituntaskan, program kerja yang telah disepakati melalui Musyawarah Nagari, evaluasi kinerja Semester I, serta penyelesaian laporan keuangan hingga bulan Juni 2026.
Lebih dari aspek administrasi, pendamping juga mengajak seluruh peserta melihat pengalaman yang telah terjadi di berbagai BUMNag di Kecamatan Ampek Angkek.
Hampir seluruh kegiatan ketahanan pangan yang dijalankan sebelumnya mengalami kerugian akibat berbagai faktor, mulai dari perencanaan usaha yang belum matang, fluktuasi harga, hingga lemahnya pendampingan teknis di lapangan.
Karena itu, rencana usaha baru perlu dikaji secara komprehensif dengan mempertimbangkan aspek pasar, risiko usaha, kemampuan pengelola, serta melibatkan penyuluh pertanian dalam proses pengawasan dan pembinaan.
Pembelajaran ini menjadi pesan penting bahwa setiap peluang usaha harus diawali dengan studi kelayakan, bukan hanya karena tersedia anggaran.
Baca Juga : 5 Jenis Usaha yang Berhasil Dikelola BUMDes, Bukan Ikut Tren
Menjajaki Peluang Baru Melalui Kerja Sama dengan SPPG
Di tengah berbagai tantangan, diskusi juga menghadirkan optimisme baru.
Pengurus BUMNag mulai menjajaki peluang agar BUMNag Biaro Gadang Sakato dapat berpartisipasi sebagai pemasok kebutuhan pangan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di wilayah Biaro Gadang.
Peluang ini dinilai lebih menjanjikan karena memiliki kebutuhan pasar yang relatif berkelanjutan apabila mampu memenuhi standar kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pasokan.
Meski masih dalam tahap penjajakan, ide tersebut mendapat sambutan positif karena membuka kesempatan bagi BUMNag untuk mengembangkan usaha yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung program pemerintah.
Baca Juga : Tim Seleksi Pengurus dan Pengawas BUMDes Ideal dan Transparan
Pembelajaran Pendampingan: Keberanian Mengevaluasi Adalah Modal untuk Bertumbuh
Pendampingan pada kegiatan ini memberikan pelajaran bahwa keberhasilan BUMNag tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal ataupun banyaknya unit usaha yang dimiliki.
Yang jauh lebih penting adalah keberanian melakukan evaluasi secara terbuka, menyelesaikan administrasi dengan baik, membangun kerja sama yang transparan, serta mengambil keputusan berdasarkan analisis yang matang.
Peran pendamping dalam proses ini bukan sebagai pengambil keputusan, melainkan sebagai fasilitator yang membantu seluruh pihak melihat persoalan secara objektif, memperkuat tata kelola, serta memastikan setiap langkah tetap berada dalam koridor regulasi.
Semangat evaluasi yang ditunjukkan BUMNag Biaro Gadang Sakato menjadi praktik baik yang layak dicontoh oleh nagari lain. Sebab, organisasi yang mau belajar dari kondisi nyata akan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, membangun BUMNag bukan tentang seberapa cepat membuka usaha baru, melainkan bagaimana memastikan setiap usaha benar-benar memberikan manfaat bagi nagari, menggerakkan ekonomi masyarakat, dan menjadi pilar kemandirian desa di masa depan.

0 Komentar