TPP Agam - Nagari Pasia : Upaya membangun Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) yang kuat dan berkelanjutan tidak cukup hanya dengan semangat. Dibutuhkan perencanaan yang matang, pengurus yang siap bekerja, serta dukungan semua unsur nagari agar usaha yang dibangun benar-benar mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
Hal itulah yang terlihat dalam kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh TPP Ampek Angkek bersama BUMNag Pasia Saiyo, bertempat di Kantor Nagari Pasia pada Selasa, 26 Mei 2026. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Bamus Nagari Pasia beserta anggota, Wali Nagari Pasia Bapak Hanafi, pengurus BUMNag Pasia Saiyo, serta Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Ampek Angkek.
Pertemuan ini menjadi bagian penting dari proses panjang membangun kembali arah dan masa depan BUMNag Pasia Saiyo agar lebih terukur, realistis, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat nagari.
TPP Ampek Angkek Dampingi BUMNag Pasia Saiyo Menyusun Program Kerja Berkelanjutan
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari pertemuan sebelumnya yang telah dilaksanakan pada 22 Mei 2026. Dalam pertemuan terdahulu, telah disepakati bahwa calon pengurus BUMNag akan menyiapkan dan menyampaikan rencana program kerja yang akan dijalankan sebagai dasar pembahasan bersama.
Suasana diskusi berlangsung hangat namun tetap serius. Masing-masing pihak mencoba memberikan pandangan terbaik demi memastikan BUMNag Pasia Saiyo tidak lagi berjalan tanpa arah seperti pengalaman sebelumnya.
Dalam forum tersebut, beberapa rencana unit usaha mulai dipaparkan. Di antaranya pengelolaan sampah, jasa pencucian karpet dan motor, serta jasa konveksi. Ide usaha tersebut dinilai cukup dekat dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki peluang untuk berkembang jika dikelola dengan baik.
Lukman selaku Ketua BUMNag Pasia Saiyo menyampaikan keyakinannya bahwa unit usaha yang dirancang memiliki potensi untuk dijalankan secara bertahap.
“Kami melihat usaha ini cukup memungkinkan untuk dijalankan. Selain kebutuhan masyarakat memang ada, peluang pasarnya juga masih terbuka. Tinggal bagaimana pengelolaannya dibuat serius dan bertahap,” ujar Lukman dalam diskusi tersebut.
Pernyataan itu kemudian mendapat tanggapan dan penguatan dari berbagai pihak yang hadir. Sebagian besar peserta menilai bahwa keberanian memulai usaha perlu dibarengi dengan kesiapan administrasi, manajemen, serta komitmen pengurus.
Baca Juga : TPP Ampek Angkek Dampingi BUMNag Pasia: Menata Ulang Kepengurusan demi Masa Depan Usaha Nagari
Pengelolaan Sampah dan Jasa Layanan Dinilai Punya Peluang di Nagari
Salah satu pembahasan yang cukup menarik perhatian dalam pertemuan tersebut adalah rencana unit usaha pengelolaan sampah. Persoalan sampah saat ini tidak lagi hanya menjadi urusan kebersihan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.
Di banyak nagari, persoalan sampah sering menjadi masalah yang belum tertangani secara optimal. Karena itu, kehadiran BUMNag dinilai dapat menjadi solusi jika dikelola dengan pendekatan usaha dan pelayanan masyarakat secara bersamaan.
Selain pengelolaan sampah, usaha jasa pencucian karpet dan motor juga dinilai cukup realistis. Kebutuhan masyarakat terhadap layanan praktis terus meningkat, terlebih di tengah aktivitas masyarakat yang semakin padat.
Begitu pula dengan usaha jasa konveksi yang dianggap memiliki peluang tersendiri, terutama untuk mendukung kebutuhan seragam sekolah, kegiatan organisasi, maupun berbagai agenda masyarakat nagari.
Meski demikian, seluruh peserta sepakat bahwa ide usaha yang baik tetap membutuhkan kajian dan perhitungan yang matang agar tidak berhenti hanya sebagai wacana.
Baca juga : 5 Jenis Usaha yang Berhasil Dikelola BUMDes, Bukan Ikut Tren
Pendampingan TPP Ampek Angkek Tekankan Legalitas dan Kompetensi Pengurus
Dalam pertemuan tersebut, Surya Putra selaku TPP Ampek Angkek memberikan sejumlah catatan penting terkait langkah yang harus dipersiapkan sebelum unit usaha dijalankan.
Ia mengingatkan bahwa penguatan kelembagaan menjadi fondasi utama agar BUMNag dapat berjalan secara sehat dan profesional.
“Pertama, kepengurusan definitif perlu segera disahkan melalui Musyawarah Nagari yang akan digelar. Kedua, unit usaha yang dijalankan harus sesuai dengan ketentuan dalam AD/ART yang ada. Ketiga, pengurus harus benar-benar memiliki kompetensi dan kesiapan menjalankan usaha,” jelas Surya Putra.
Ia juga menegaskan bahwa perencanaan usaha tidak cukup hanya disampaikan secara lisan. Semua ide dan rencana perlu dituangkan dalam bentuk dokumen tertulis agar dapat dipelajari bersama oleh seluruh pihak.
Menurutnya, dokumen tersebut penting untuk melihat gambaran usaha secara utuh, mulai dari potensi pasar, kebutuhan modal, risiko usaha, hingga strategi pengelolaannya.
“Perlu dibuat perhitungan yang matang. Jangan hanya sebatas ide lisan. Semua pihak harus bisa melihat dan menganalisa bersama agar usaha yang dijalankan benar-benar realistis dan berkelanjutan,” tambahnya.
Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari peserta yang hadir. Sebab, banyak BUMNag di berbagai daerah mengalami kendala bukan karena tidak memiliki ide usaha, tetapi karena lemahnya perencanaan dan tata kelola.
Belajar dari Pengalaman Kepengurusan Sebelumnya
Diskusi yang berlangsung hampir tanpa jeda itu juga menjadi ruang refleksi bersama. Para peserta mencoba melihat berbagai pengalaman sebelumnya agar kesalahan yang sama tidak kembali terulang.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pentingnya aturan main atau standar operasional prosedur (SOP) dalam menjalankan unit usaha. Tanpa aturan yang jelas, pengelolaan usaha dikhawatirkan akan mengalami kebingungan dalam pembagian tugas, pengelolaan keuangan, maupun pengambilan keputusan.
Karena itu, pada pertemuan selanjutnya pengurus diharapkan sudah mulai menyiapkan catatan tertulis terkait berbagai aspek yang telah dibahas dalam forum.
Mulai dari analisa usaha, kebutuhan operasional, pembagian tugas pengurus, hingga SOP jalannya unit usaha diharapkan dapat mulai dirumuskan secara sederhana namun jelas.
Langkah ini penting agar seluruh pihak memiliki gambaran yang sama tentang arah pengembangan BUMNag Pasia Saiyo ke depan.
Membangun BUMNag Tidak Bisa Instan
Pendampingan yang dilakukan TPP Ampek Angkek dalam kegiatan ini memperlihatkan bahwa membangun BUMNag bukan pekerjaan yang selesai dalam satu pertemuan. Dibutuhkan proses, diskusi panjang, serta kesabaran untuk memastikan setiap langkah berjalan pada jalurnya.
BUMNag bukan hanya tentang membuka usaha, tetapi tentang membangun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga ekonomi nagari. Ketika tata kelola dibangun dengan baik, peluang BUMNag untuk berkembang tentu akan semakin besar.
Kehadiran unsur pemerintah nagari, Bamus, pengurus BUMNag, dan pendamping desa dalam satu forum menjadi tanda bahwa pembangunan ekonomi nagari membutuhkan kerja bersama.
Tidak ada usaha yang langsung besar dalam waktu singkat. Namun ketika pondasi kelembagaan diperkuat sejak awal, peluang keberhasilan tentu akan lebih terbuka.
Pertemuan di Kantor Nagari Pasia tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun dari ruang diskusi itulah lahir berbagai harapan tentang masa depan ekonomi nagari yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Pendampingan yang dilakukan bukan sekadar membahas administrasi atau program kerja, tetapi juga menanamkan cara berpikir bahwa usaha nagari harus dibangun dengan perencanaan, tanggung jawab, dan komitmen bersama.
Ke depan, seluruh pihak berharap BUMNag Pasia Saiyo mampu tumbuh menjadi lembaga usaha yang tidak hanya bertahan, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat Nagari Pasia.


0 Komentar