TPP Agam - Kegiatan pendampingan penyusunan program kerja (proker) BUMNag Taratak Batu Putiah Sakti Paninjauan menjadi langkah penting dalam memperkuat arah usaha nagari. Dilaksanakan pada 14 April 2026 di Aula Nagari Paninjauan, kegiatan ini tidak hanya membahas penyusunan dokumen perencanaan, tetapi juga menegaskan strategi pengembangan usaha beras berbasis potensi lokal. Melalui kolaborasi antara pemerintah nagari, pengurus BUMNag, dan TPP Tanjung Raya, proses ini diarahkan untuk memastikan bahwa setiap program yang disusun mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendorong kemandirian ekonomi nagari.
Pendampingan Proker BUMNag Paninjauan: Menyatukan Arah dan Kepentingan
Kegiatan ini dihadiri oleh Pemerintahan Nagari Paninjauan, TPP Tanjung Raya, serta pengurus dan pengawas BUMNag Taratak Batu Putiah Sakti Paninjauan. Kehadiran berbagai unsur ini menunjukkan bahwa penguatan BUMNag bukanlah kerja parsial, melainkan membutuhkan keterlibatan kolektif.
Dalam forum tersebut, diskusi tidak hanya berfokus pada penyusunan program kerja secara administratif, tetapi juga pada bagaimana dokumen tersebut mampu menjadi pijakan strategis dalam menjalankan usaha secara berkelanjutan.
Baca Juga : 5 Jenis Usaha yang Berhasil Dikelola BUMDes, Bukan Ikut Tren
Urgensi Program Kerja dalam Penyertaan Modal Nagari
Sekretaris Nagari Paninjauan, Bapak Dedi Andri, yang mewakili Wali Nagari, menekankan pentingnya program kerja sebagai dasar pengambilan kebijakan.
“Program kerja ini perlu disusun agar dapat dibahas dan disyahkan dalam musyawarah nagari. Sebab tahun 2026, Nagari Paninjauan akan melakukan penyertaan modal sebesar 45 juta rupiah untuk kegiatan ketahanan pangan melalui BUMNag,” ujarnya.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa penyusunan proker bukan sekadar formalitas, melainkan menjadi instrumen penting dalam memastikan penggunaan anggaran nagari tepat sasaran.
Sejalan dengan itu, Bamus Nagari Paninjauan juga menyampaikan harapannya agar program kerja yang disusun mampu memberikan dampak nyata.
“Kami berharap program kerja yang dibuat dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat nagari dan pada akhirnya menghasilkan Pendapatan Asli Nagari,” ungkap salah satu perwakilan Bamus.
Baca Juga : Penyertaan Modal BUMDes: Strategi Tepat Membangun Ekonomi Desa
Peran Pendamping dalam Memetakan Potensi Nagari
TPP Tanjung Raya, Surya Putra, dalam pendampingannya menegaskan bahwa penyusunan program kerja harus diawali dengan pemetaan potensi nagari secara komprehensif.
“Kita harus mulai dari pemetaan potensi nagari, baru kemudian menentukan usaha apa yang akan dijalankan dan disusun dalam program kerja,” jelasnya.
Pendekatan ini menjadi penting agar usaha yang dikembangkan tidak bersifat spekulatif, tetapi benar-benar berbasis pada kekuatan lokal yang dimiliki nagari.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa BUMNag Taratak Batu Putiah Sakti Paninjauan telah memiliki legalitas yang kuat.
“BUMNag ini sudah resmi berbadan hukum, sehingga secara kelembagaan sudah lebih kuat. Tinggal bagaimana pengelolaannya bisa lebih profesional,” tambahnya.
Namun demikian, ia juga memberikan catatan penting terkait tata kelola.
“BUMNag belum melaksanakan musyawarah nagari terkait laporan keuangan tahun 2025, padahal sesuai regulasi harus dilakukan paling lambat 31 Maret,” tegasnya.
Hal ini menunjukkan bahwa penguatan BUMNag tidak hanya pada aspek usaha, tetapi juga pada kepatuhan terhadap regulasi.
Baca Juga : BUMNag Taratak Batu Putiah Sakti Paninjauan Resmi Berbadan Hukum, Siap Perkuat Ekonomi Nagari
Menentukan Arah Usaha: Pengembangan Produksi Beras Nagari
Dalam sesi diskusi, dengan mempertimbangkan potensi nagari dan peluang pasar, BUMNag Taratak Batu Putiah Sakti Paninjauan sepakat untuk mengembangkan usaha produksi beras.
Keputusan ini merupakan kelanjutan dari usaha sebelumnya, yaitu jual beli gabah. Transformasi ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan nilai tambah hasil pertanian masyarakat.
Dengan masuk ke sektor produksi beras, BUMNag tidak lagi hanya menjadi perantara, tetapi mulai mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai ekonomi.
Tantangan Usaha Beras: Dari Ketersediaan Bahan Baku hingga Pasar
Meski memiliki potensi besar, usaha produksi beras juga menghadirkan sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi.
Surya Putra menekankan pentingnya memastikan ketersediaan bahan baku.
“Kita harus menghitung berapa produksi padi masyarakat dan berapa peluang BUMNag untuk mendapatkannya, karena selama ini masyarakat juga menjual ke luar nagari,” jelasnya.
Selain itu, aspek produksi dan pasca produksi juga menjadi perhatian penting, termasuk kualitas beras, pengemasan, hingga pemasaran.
“Jangan sampai beras yang diproduksi tidak terserap pasar. Aspek pemasaran harus dipikirkan sejak awal,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya analisis bisnis yang matang.
“Dari hulu ke hilir harus diperhitungkan, termasuk biaya produksi dan potensi keuntungan,” tegasnya.
Pendekatan ini menekankan bahwa BUMNag harus dikelola secara profesional dengan perhitungan yang jelas.
Pendampingan sebagai Proses Penguatan Kapasitas
Kegiatan pendampingan ini tidak hanya menghasilkan rancangan program kerja, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi pengelola BUMNag.
Diskusi yang berlangsung menunjukkan adanya perubahan cara pandang, dari yang sebelumnya berbasis pengalaman menuju pendekatan yang lebih sistematis dan berbasis analisis.
Pendampingan dalam hal ini berperan sebagai fasilitator yang membantu mempercepat proses peningkatan kapasitas kelembagaan.
Baca Juga : Regulasi Pengelolaan BUMDes: Panduan Lengkap PP 11 Tahun 2021
Penutup: Menguatkan Fondasi Menuju Kemandirian Ekonomi Nagari
Pendampingan penyusunan Program Kerja BUMNag Taratak Batu Putiah Sakti Paninjauan menjadi langkah awal yang penting dalam membangun usaha nagari yang terarah dan berkelanjutan.
Dengan adanya program kerja yang jelas, dukungan pemerintah nagari, serta pendampingan yang berkelanjutan, BUMNag memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai motor penggerak ekonomi nagari.
Lebih dari itu, keberhasilan BUMNag nantinya tidak hanya diukur dari keuntungan usaha, tetapi juga dari sejauh mana keberadaannya mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pendampingan ini menjadi bukti bahwa dengan perencanaan yang matang dan kolaborasi yang kuat, nagari mampu melangkah menuju kemandirian ekonomi yang berdaya saing dan berkelanjutan.


0 Komentar