TPP Agam - Nagari Sungai Batang kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pelayanan sosial dasar, khususnya di bidang kesehatan, melalui kegiatan Pembentukan Tim Rumah Desa Sehat (RDS) yang dilaksanakan pada Selasa, 21 April 2026, bertempat di Aula Nagari Sungai Batang. Kegiatan ini bukan sekadar formalitas kelembagaan, melainkan langkah strategis untuk menghidupkan kembali peran RDS sebagai ruang kolaborasi lintas sektor di tingkat nagari.
Acara ini dihadiri oleh berbagai unsur penting nagari, mulai dari perwakilan pemerintah nagari, kader kesehatan, hingga kelompok perempuan dan tokoh masyarakat. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa pembangunan kesehatan tidak bisa berjalan sendiri, tetapi membutuhkan keterlibatan kolektif yang terstruktur dan berkelanjutan.
Mengapa Pembentukan Tim RDS Nagari Sungai Batang Menjadi Penting?
Pembentukan kembali Tim RDS di Nagari Sungai Batang dilatarbelakangi oleh kondisi sebelumnya, di mana RDS memang telah terbentuk, namun tidak berjalan secara optimal. Dalam arahannya, Sekretaris Nagari Sungai Batang, Bapak Ade Candra, yang mewakili Wali Nagari, menyampaikan secara jujur kondisi tersebut.
“RDS sebenarnya sudah pernah dibentuk, tetapi belum berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu, perlu dilakukan perombakan agar bisa kembali aktif dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan ini menjadi refleksi penting bahwa pembentukan lembaga tanpa penguatan fungsi dan komitmen hanya akan berujung pada stagnasi. Oleh karena itu, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pembentukan struktur baru, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya peran RDS.
Peran Strategis RDS dalam Pembangunan Kesehatan Nagari
Dalam sesi pemaparan, Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Tanjung Raya, Surya Putra, menjelaskan bahwa pembentukan RDS bukanlah inisiatif tanpa dasar. RDS dibentuk berdasarkan regulasi yang jelas, yaitu Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 dan Peraturan Bupati Agam Nomor 77 Tahun 2022.
Ia menjelaskan bahwa RDS berfungsi sebagai sekretariat bersama bagi para pegiat pemberdayaan masyarakat dan pelaku pembangunan desa di bidang kesehatan. Lebih dari itu, RDS memiliki tiga fungsi utama:
- Ruang literasi kesehatan masyarakat
- Pusat penyebaran informasi kesehatan
- Forum advokasi kebijakan di bidang kesehatan
Surya Putra menegaskan bahwa keberadaan RDS menjadi sangat krusial dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan sumber daya manusia (PSDM), terutama dalam pemenuhan layanan dasar.
“Tidak ada satu lembaga atau individu yang bisa menyelesaikan persoalan kesehatan masyarakat secara sendiri. Karena itu, RDS menjadi wadah konvergensi agar semua pihak bisa bergerak bersama,” jelasnya.
RDS sebagai Wadah Konvergensi Pencegahan Stunting
Salah satu isu utama yang menjadi perhatian dalam pembentukan RDS adalah pencegahan stunting. Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga menyangkut aspek sosial, ekonomi, dan pendidikan.
Surya Putra menjelaskan bahwa untuk mengatasi persoalan kompleks seperti stunting, dibutuhkan intervensi terpadu yang melibatkan berbagai sektor. RDS hadir sebagai ruang untuk menyatukan langkah tersebut.
Ia menambahkan bahwa forum ini diharapkan mampu membuka ruang dialog antara masyarakat dan pemerintah nagari.
“RDS harus menjadi ruang perbincangan publik, tempat masyarakat bisa menyampaikan realitas yang mereka hadapi, sekaligus mencari solusi bersama,” ungkapnya.
Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai objek, tetapi sebagai subjek aktif dalam pembangunan.
Suasana Pertemuan Pembentukan Rumah Desa Sehat (RDS) Nagari Sungai Batang
Menggali Akar Masalah: Mengapa RDS Sebelumnya Tidak Aktif?
Salah satu bagian penting dalam kegiatan ini adalah sesi dialog terbuka. Peserta diajak untuk secara jujur mengungkapkan alasan mengapa RDS sebelumnya tidak berjalan.
Diskusi ini berlangsung dinamis. Berbagai pandangan muncul, mulai dari kurangnya koordinasi, minimnya pemahaman terhadap fungsi RDS, hingga belum adanya pembagian peran yang jelas.
Pendekatan partisipatif ini menjadi kunci penting. Dengan melibatkan semua pihak dalam proses refleksi, muncul rasa memiliki terhadap RDS yang akan dibentuk kembali.
Surya Putra dalam kesempatan tersebut mengingatkan:
“Jangan sampai RDS hanya berhenti di atas kertas SK. Kita butuh tim yang benar-benar bekerja dan bergerak di lapangan.”
Pesan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan RDS tidak diukur dari terbentuknya struktur, tetapi dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Simulasi eHDW: Penguatan Kapasitas Kader Nagari
Selain pembentukan tim, kegiatan ini juga diisi dengan simulasi pengisian aplikasi eHDW (electronic Human Development Worker). Simulasi ini diberikan kepada Kader Pembangunan Manusia (KPM) dan Kasi Kesejahteraan Nagari yang baru dilantik.
Kegiatan ini menjadi sangat relevan, mengingat selama ini masih terdapat kendala dalam penginputan data. Melalui simulasi ini, peserta tidak hanya memahami teknis penggunaan aplikasi, tetapi juga pentingnya data dalam perencanaan pembangunan.
Data yang akurat menjadi dasar dalam menentukan intervensi yang tepat. Tanpa data, kebijakan yang diambil berpotensi tidak tepat sasaran.
Simulasi ini sekaligus menjadi jawaban atas berbagai kendala yang selama ini dihadapi oleh KPM di lapangan.
Baca Juga : Peningkatan Kapasitas KPM Se Tanjung Raya: Dari Silaturahmi Halal Bi Halal Menuju Aksi Nyata Cegah Stunting
Terbentuknya Tim RDS Baru: Harapan Baru bagi Nagari
Di akhir kegiatan, dilakukan proses pemilihan dan penetapan pengurus RDS yang baru. Proses ini dilakukan secara partisipatif, dengan mempertimbangkan keterwakilan berbagai unsur yang hadir.
Terbentuknya tim baru ini membawa harapan besar bagi Nagari Sungai Batang. Pemerintah nagari berharap agar RDS kali ini tidak hanya aktif secara administratif, tetapi juga mampu menjalankan fungsi strategisnya.
Komitmen ini menjadi penting, mengingat tantangan pembangunan kesehatan ke depan semakin kompleks.
Refleksi: Dari Formalitas Menuju Gerakan Nyata
Kegiatan pembentukan Tim RDS Nagari Sungai Batang memberikan pelajaran penting bahwa pembangunan tidak cukup hanya dengan membentuk lembaga. Yang lebih penting adalah bagaimana lembaga tersebut dihidupkan melalui kerja nyata dan kolaborasi.
RDS, dalam konteks ini, bukan sekadar struktur organisasi, tetapi sebuah gerakan bersama. Gerakan yang menghubungkan berbagai aktor pembangunan, dari pemerintah hingga masyarakat.
Keterlibatan kader Posyandu, Kader KB, KPM, guru PAUD, bidan desa, PKK, hingga Bundo Kanduang menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan memang harus bersifat inklusif.
Baca Juga : Apa yang Harus Dibahas dalam Pertemuan Rutin Triwulan Rumah Desa Sehat (RDS)?
Penutup: Menguatkan Komitmen untuk Masa Depan yang Lebih Sehat
Pembentukan Tim RDS Nagari Sungai Batang menjadi langkah awal yang penting dalam menguatkan sistem pembangunan kesehatan berbasis masyarakat. Dengan dukungan regulasi, pendampingan yang berkelanjutan, serta komitmen dari seluruh pihak, RDS diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan.
Lebih dari itu, keberhasilan RDS akan sangat ditentukan oleh konsistensi dan kolaborasi. Ketika semua pihak bergerak dalam satu visi, maka tujuan besar seperti peningkatan kualitas hidup masyarakat dan pencegahan stunting bukanlah hal yang mustahil.
Nagari Sungai Batang kini memiliki peluang baru. Tinggal bagaimana peluang ini dijaga, dirawat, dan diwujudkan dalam kerja nyata yang berkelanjutan.


0 Komentar