RDS Nagari Duo Koto Tegaskan Pentingnya Evaluasi Layanan Stunting di Tengah Dampak Bencana


Duo Koto - Rumah Desa Sehat (RDS) Nagari Duo Koto melaksanakan Pertemuan Triwulan IV pada Senin, 22 Desember 2025, bertempat di Rumah Pintar (Rupin) Nagari Duo Koto. Pertemuan ini menjadi forum evaluasi bersama terhadap pelaksanaan program kesehatan nagari, khususnya yang berkaitan dengan 9 layanan konvergensi stunting selama periode Oktober hingga Desember 2025.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh pengurus Rumah Desa Sehat yang berasal dari berbagai unsur, di antaranya Kader Pembangunan Manusia (KPM), bidan desa, guru TK PAUD, serta kader Posyandu. Selain itu, pertemuan juga dihadiri oleh Pendamping Desa Kecamatan Tanjung Raya, yakni Ibu Yendri Yeni dan Bapak Surya Putra, serta Pelaksana Kegiatan Nagari Duo Koto, Ibu Suri.

Pertemuan RDS ini difokuskan pada pembahasan berbagai permasalahan yang ditemui di lapangan selama triwulan keempat tahun 2025 terkait pelaksanaan 9 layanan konvergensi stunting. Para pengurus RDS yang hadir sebagai perwakilan dari berbagai unsur menyampaikan kondisi riil yang mereka hadapi, mulai dari kendala pelayanan, keterbatasan sarana pendukung, hingga tantangan dalam pendampingan keluarga sasaran stunting.

Diskusi berlangsung secara terbuka dan partisipatif. Setiap unsur diberikan kesempatan untuk menyampaikan masalah sekaligus pandangan mereka terhadap solusi yang memungkinkan. Melalui forum ini, diharapkan setiap persoalan tidak hanya dicatat, tetapi juga dicarikan jalan keluar bersama yang realistis dan sesuai dengan kondisi nagari.

Dalam pertemuan tersebut juga dibahas situasi Kabupaten Agam, khususnya Nagari Duo Koto, yang tengah mengalami bencana alam. Kondisi ini dinilai sangat berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan dasar, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan baduta.

Para peserta menekankan pentingnya memastikan kondisi kesehatan keluarga terdampak bencana, agar risiko terjadinya stunting tidak semakin meningkat. Keluarga sasaran stunting, terutama yang terdampak langsung oleh bencana, dinilai perlu mendapatkan perhatian khusus melalui pendampingan yang lebih intensif dan terarah.

Pendamping Desa Kecamatan Tanjung Raya, Ibu Yendri Yeni, dalam arahannya menyampaikan bahwa pertemuan RDS merupakan ruang penting untuk menyatukan informasi dan mencari solusi atas permasalahan yang ada di lapangan. Menurutnya, semua pihak harus terlibat aktif karena merekalah yang paling memahami kondisi masyarakat secara langsung.

“Semua pihak harus terlibat aktif dalam kegiatan pertemuan RDS ini, sebab kitalah yang tahu kondisi di lapangan. Dengan pertemuan seperti ini, berbagai permasalahan bisa kita bahas bersama dan dicarikan jalan keluar yang tepat,” ujar Ibu Yendri Yeni.

Ia juga menambahkan bahwa keluarga terdampak langsung, khususnya keluarga sasaran stunting, perlu mendapatkan perhatian lebih agar kondisi kesehatan ibu dan anak tetap terjaga di tengah situasi sulit akibat bencana.

Sementara itu, Pendamping Desa Surya Putra menyampaikan bahwa pertemuan RDS triwulan keempat ini memiliki makna penting karena merupakan pertemuan terakhir pada tahun anggaran 2025. Oleh karena itu, forum ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang diskusi, tetapi juga sebagai tahap awal dalam penyusunan laporan pelaksanaan kegiatan RDS selama tahun 2025.

“Pertemuan RDS keempat ini adalah pertemuan terakhir tahun 2025. Karena itu, kita perlu mulai menyiapkan laporan pelaksanaan kegiatan RDS tahun anggaran 2025. Laporan ini penting sebagai gambaran kegiatan apa saja yang sudah dijalankan dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat,” jelas Surya Putra.

Ia menambahkan bahwa laporan tersebut juga harus memuat kegiatan yang belum terlaksana beserta penyebabnya. Hal ini diperlukan agar dapat dilakukan evaluasi secara objektif dan menjadi dasar dalam penyusunan rekomendasi kegiatan RDS untuk tahun 2026.

“Kegiatan yang tidak terlaksana perlu kita sampaikan secara terbuka, termasuk kendalanya. Dari situ kita bisa memberikan rekomendasi terbaik agar perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di tahun 2026 menjadi lebih baik dan tepat sasaran,” tambahnya.

Melalui pertemuan ini, diharapkan Rumah Desa Sehat Nagari Duo Koto dapat terus berperan sebagai wadah koordinasi lintas sektor dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Sinergi antarunsur dan evaluasi berkelanjutan diharapkan mampu memperkuat pelaksanaan program kesehatan nagari, khususnya dalam pencegahan dan penurunan stunting.

rds nagari duo koto, stunting, kesehatan desa, konvergensi stunting, posyandu

Posting Komentar

0 Komentar