FGD Stunting Nagari Biaro Gadang Bahas Perencanaan Berbasis Data untuk RKP 2027

Suasana FGD Stunting di Nagari Biaro Gadang
Suasana FGD Stunting di Nagari Biaro Gadang, Jumat Tanggal 5 Juni 2026

TPP Agam - Nagari Biaro Gadang : Upaya penanganan stunting di tingkat nagari tidak cukup hanya dengan melaksanakan kegiatan setiap tahun, tetapi juga membutuhkan evaluasi menyeluruh terhadap dampak program yang telah dijalankan. Di tengah berbagai layanan kesehatan dan dukungan program pemerintah yang terus berjalan, persoalan stunting masih menjadi tantangan serius di banyak daerah, termasuk di wilayah yang memiliki akses layanan cukup baik.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Stunting Nagari Biaro Gadang yang dilaksanakan pada Jumat, 5 Juni 2026 di Aula Nagari Biaro Gadang, Kecamatan Ampek Angkek.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Bamus Nagari Biaro Gadang, Bapak Nasirwan, dan dihadiri oleh Sekretaris Nagari Biaro Gadang, bidan desa, kader Posyandu, kader KPM, wali jorong, serta Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Ampek Angkek yang terdiri dari Indra Nofiardi, Irawati, dan Surya Putra.

FGD ini menjadi bagian penting dalam proses persiapan penyusunan RKP Nagari Tahun 2027 sekaligus langkah awal menuju pelaksanaan rembug stunting nagari.

Perencanaan Nagari Harus Dimulai dari Data

Pembahasan dalam FGD diawali oleh TPP Kecamatan Ampek Angkek, Surya Putra, yang menjelaskan pentingnya data dalam proses pembangunan nagari, khususnya dalam penanganan stunting.

Menurutnya, pembangunan yang tepat sasaran harus dimulai dari pendataan yang baik, dilanjutkan dengan perencanaan, kemudian pelaksanaan kegiatan yang benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.

“Pembangunan di nagari dimulai dari data. Karena itu sebelum menyusun kegiatan, kita harus memahami dulu kondisi riil masyarakat yang ada di lapangan,” jelas Surya Putra dalam pemaparannya.

Ia juga menyampaikan bahwa FGD stunting menjadi bagian penting dalam tahapan penyusunan RKP Nagari Tahun 2027 karena pemerintah nagari perlu memastikan program yang direncanakan benar-benar berbasis kebutuhan masyarakat dan kondisi data yang tersedia.

Menurutnya, rembug stunting bukan sekadar kegiatan formal tahunan, tetapi ruang untuk mengevaluasi masalah dan mencari solusi bersama agar intervensi yang dilakukan lebih tepat sasaran.

Baca Juga : Ketika Data Stunting Berbeda dengan Cerita Warga: Di Antara Angka dan Kenyataan Lapangan

Memiliki 11 Posyandu, Angka Stunting Masih Jadi Perhatian

Dari data yang dihimpun dalam pembahasan FGD, diketahui bahwa di Nagari Biaro Gadang terdapat:

  • 39 ibu hamil,
  • 4 ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK),
  • 1 ibu hamil risiko tinggi (Resti),
  • 336 balita,
  • dan 49 balita stunting.

Data tersebut menjadi perhatian peserta FGD karena angka stunting yang ada dinilai masih cukup tinggi. Kondisi ini menjadi sorotan mengingat Nagari Biaro Gadang merupakan nagari penyangga sekaligus ibu kota kecamatan yang memiliki akses infrastruktur dan layanan publik yang relatif memadai.

Nagari Biaro Gadang sendiri memiliki 6 jorong dengan dukungan 11 Posyandu yang selama ini aktif memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Selain itu, keberadaan puskesmas dan berbagai layanan kesehatan lainnya sebenarnya telah menjadi modal penting dalam mendukung penanganan stunting di nagari, termasuk pemberian MBG kepada ibu hamil dan anak balita sasaran yang ada di nagari.

Namun kondisi tersebut justru memunculkan pertanyaan penting dalam forum diskusi mengenai efektivitas program yang selama ini telah dijalankan.

“Layanan sudah banyak diberikan, kegiatan juga sudah berjalan. Karena itu yang perlu kita lihat sekarang bukan hanya kegiatan terlaksana atau tidak, tetapi bagaimana dampaknya bagi masyarakat,” ujar Surya Putra dalam diskusi.

Ia mengingatkan bahwa evaluasi program perlu melihat bukan hanya dari sisi output kegiatan, tetapi juga outcome atau dampak nyata terhadap perubahan kondisi masyarakat.

Baca Juga : Peran Posyandu dalam Pencegahan Stunting di Desa

Pendekatan By Name By Address Mulai Dibahas

Dalam diskusi, peserta FGD juga mulai membahas kondisi anak stunting secara by name by address agar langkah penanganan yang dilakukan lebih terukur dan terencana. Pendekatan ini dinilai penting agar pemerintah nagari dan kader kesehatan benar-benar memahami kondisi setiap keluarga yang mengalami persoalan stunting.

Suasana Pembahasan dalam FGD Stunting di Nagari Biaro Gadang
Suasana Pembahasan dalam FGD Stunting di Nagari Biaro Gadang

Selain anak stunting, pembahasan juga diarahkan kepada anak yang berisiko stunting agar dapat dilakukan langkah pencegahan sejak dini.

TPP Kecamatan Ampek Angkek menekankan bahwa perhatian pemerintah nagari tidak boleh hanya terfokus pada jumlah anak stunting yang ada saat ini, tetapi juga terhadap kelompok anak yang berisiko mengalami stunting di masa mendatang.

“Jangan hanya fokus pada angka stunting yang ada sekarang. Anak yang berisiko stunting juga harus menjadi perhatian serius agar jumlahnya tidak terus bertambah,” tegas Surya Putra dalam diskusi.

Pendekatan seperti ini dinilai penting karena penanganan stunting tidak cukup dilakukan setelah masalah muncul, tetapi juga membutuhkan langkah pencegahan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Baca Juga : FGD dan Rembug Stunting Nagari Panampuang: Saat Nagari Duduk Bersama Menyelamatkan Generasi Masa Depan

Evaluasi Program Jadi Bagian Penting Penanganan Stunting

Suasana FGD berlangsung cukup aktif. Peserta yang terdiri dari kader kesehatan, wali jorong, dan unsur nagari terlihat mulai membahas berbagai persoalan yang masih ditemui di lapangan, mulai dari pola asuh, kondisi ekonomi keluarga, pemahaman gizi, hingga keterlibatan keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Diskusi tersebut menjadi penting karena persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor sosial dan ekonomi masyarakat.

Beberapa peserta juga menyampaikan bahwa kegiatan penanganan stunting selama ini cukup banyak dilaksanakan, namun perlu evaluasi apakah kegiatan tersebut benar-benar menyentuh keluarga yang membutuhkan.

Salah seorang kader Posyandu yang hadir dalam kegiatan tersebut berharap adanya koordinasi yang lebih kuat antar pihak dalam penanganan stunting di nagari.

“Kadang kegiatan sudah ada, tetapi masih perlu penguatan agar keluarga yang benar-benar membutuhkan bisa lebih diperhatikan,” ungkapnya dalam forum diskusi.

FGD ini menjadi ruang bersama untuk melihat persoalan secara lebih terbuka sekaligus memperkuat koordinasi antara pemerintah nagari, kader kesehatan, dan unsur masyarakat dalam penanganan stunting.

Baca Juga : Anak Stunting dan Program MBG : Strategi Ganda Negara Menyelamatkan Generasi Desa

Membahas 1000 HPK dan Layanan Konvergensi Stunting

Selain membahas kondisi data stunting, peserta FGD juga mendiskusikan pentingnya periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai masa penting dalam mencegah stunting pada anak.

Dalam pembahasan tersebut, peserta juga mengulas sembilan layanan konvergensi stunting yang menjadi bagian penting dalam upaya percepatan penurunan stunting di tingkat desa dan nagari.

Berbagai usulan kegiatan mulai dibahas berdasarkan persoalan yang muncul di lapangan. Usulan tersebut nantinya akan menjadi bahan dalam pelaksanaan rembug stunting serta penyusunan kegiatan prioritas dalam RKP Nagari Tahun 2027.

Di akhir kegiatan, peserta juga menyiapkan berita acara hasil FGD sebagai bagian dari tahapan administrasi dan tindak lanjut proses perencanaan nagari yang akan dibahas dalam Rembug Stunting yang dilaksanakan senin mendatang.

Baca Juga : Desa sebagai Garda Depan Pembangunan Manusia: Dari Posyandu hingga Masa Depan Generasi Desa

Penanganan Stunting Perlu Kolaborasi dan Data yang Akurat

FGD stunting seperti ini menjadi langkah penting agar program yang direncanakan pemerintah nagari benar-benar berdasarkan kondisi masyarakat yang sebenarnya. Data yang akurat menjadi dasar penting dalam menentukan arah intervensi dan kebijakan yang tepat sasaran.

Di tengah semakin besarnya perhatian pemerintah terhadap penanganan stunting, nagari juga dituntut tidak hanya fokus pada banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga memastikan dampak program benar-benar dirasakan masyarakat.

Pendampingan yang dilakukan TPP Ampek Angkek dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat perencanaan berbasis data di tingkat nagari, sehingga pembangunan dan pelayanan masyarakat dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Karena pada akhirnya, penanganan stunting bukan hanya tentang angka, tetapi tentang masa depan generasi yang sedang tumbuh di nagari.

Baca Juga : Anak Stunting di Nagari: Kisah Sunyi dan Peran Pendamping yang Tidak Pernah Tercatat

Posting Komentar

1 Komentar