Fasilitasi KPM Nagari Lambah: Menyelesaikan Kendala e-HDW Satu per Satu hingga Semua Kader Paham

Digitalisasi Desa Dimulai dari Data: Praktik Pendampingan KPM Nagari Lambah dalam Penggunaan e-HDW
Fasilitasi KPM Nagari Lambah Belajar Mengatasi Kendala e-HDW untuk Penguatan Data Layanan Dasar

Nagari Lambah - TPP Agam :
Jumat siang, 19 Juni 2026, suasana Aula Nagari Lambah perlahan mulai kembali ramai setelah masyarakat menunaikan Salat Jumat. Di sudut ruangan, delapan orang Kader Pembangunan Manusia (KPM) mulai berkumpul sambil membawa telepon genggam masing-masing, sebagian membuka catatan Posyandu yang selama ini mereka gunakan sebagai dokumentasi pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.

Siang itu agenda yang dilaksanakan terlihat sederhana. Namun persoalan yang dibahas menyentuh salah satu aspek penting dalam pembangunan desa hari ini: bagaimana memastikan data pelayanan dasar masyarakat benar-benar tercatat dengan baik dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan pembangunan.

Bersama admin nagari, Sekretaris Nagari Lambah, dan Tim Pendamping Profesional Kecamatan Ampek Angkek, kegiatan Fasilitasi KPM Nagari Lambah dilaksanakan untuk memperkuat kapasitas kader dalam penggunaan aplikasi e-HDW (Electronic Human Development Worker), sistem kerja digital yang disiapkan untuk membantu KPM melaporkan kondisi pembangunan manusia di tingkat desa.

Sesi Pembukaan Penguatan penggunaan aplikasi ehdw kpm nagari lambah
Sesi Pembukaan Penguatan Penggunaan Aplikasi eHDW KPM Nagari Lambah

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Nagari Lambah yang menegaskan pentingnya kualitas data bagi tata kelola pemerintahan nagari. Hal ini menjadi semakin penting karena Nagari Lambah memiliki 3 jorong, 8 Posyandu aktif, dan 8 orang KPM yang menjadi ujung tombak pemantauan pelayanan kesehatan ibu, balita, serta kelompok sasaran prioritas lainnya.

Baca Juga : Pendataan Sasaran Stunting Lewat eHDW: Peran KPM yang Sering Terlupakan

Pendamping Mengawali dengan Memetakan Persoalan yang Selama Ini Tidak Pernah Terselesaikan

Alih-alih langsung masuk pada materi teknis, proses pendampingan dimulai dengan diskusi terbuka. Surya Putra yang memandu kegiatan terlebih dahulu meminta seluruh kader menceritakan kendala yang selama ini mereka hadapi saat mencoba menggunakan aplikasi e-HDW.

Dari diskusi itu muncul berbagai persoalan yang ternyata cukup kompleks.

Ada kader yang mengaku belum pernah melakukan penginputan sama sekali karena belum memahami cara penggunaan aplikasi. Ada juga peserta yang sebelumnya pernah menginput data pada sistem e-HDW versi sebelumnya, namun ketika sistem baru digunakan, data lama yang pernah diinput ternyata tidak lagi muncul di akun mereka. Ada juga yang mengatakan dulu pernah dibuka tapi sekarang tidak bisa dibuka lagi.

Persoalan lain juga muncul dari kader yang sudah mencoba menambahkan data sasaran baru, tetapi setelah proses penyimpanan dilakukan, data tersebut ternyata tidak muncul kembali dalam sistem.

Salah seorang peserta menyampaikan dengan nada sedikit bingung:

"Kami pernah input dulu waktu aplikasi sebelumnya. Tapi sekarang ketika dibuka lagi, datanya sudah tidak ada. Ada juga data baru yang kami tambahkan, tapi setelah selesai ternyata tidak muncul lagi."

Bagi pendamping, situasi ini menjadi penting untuk dipahami. Persoalan kader ternyata bukan semata kurang memahami aplikasi, tetapi juga adanya perubahan sistem yang membuat sebagian pengguna mengalami kebingungan.

Baca Juga : Musyawarah Nagari Lambah Susun RKP 2027 dan DU RKP 2028, Menjemput Kemandirian di Tengah Keterbatasan Anggaran

Pendamping Mengubah Kegiatan Menjadi Klinik Pemecahan Masalah Langsung

Melihat banyaknya persoalan teknis yang muncul, pendamping kemudian menyesuaikan metode fasilitasi.

Kegiatan yang awalnya dirancang sebagai penguatan kapasitas sederhana berubah menjadi sesi praktik lapangan yang lebih intensif.

Setiap KPM diminta membuka aplikasi e-HDW melalui telepon genggam masing-masing. Namun untuk memastikan setiap kendala dapat dipahami bersama, pendamping meminta akun kader dibuka kembali melalui laptop dan ditampilkan ke layar aula secara bergantian.

Di sinilah proses pendampingan berlangsung sangat hidup.

Suasana Fasilitasi KPM menggunakan aplikasi eHDW di Nagari Lambah
Suasana Fasilitasi KPM menggunakan aplikasi eHDW di Nagari Lambah

Satu per satu akun peserta diperiksa bersama-sama.

Ketika ditemukan data lama yang hilang, pendamping menjelaskan kemungkinan perubahan sistem dan struktur data pada aplikasi terbaru. Saat data sasaran baru tidak muncul setelah ditambahkan, pendamping langsung menelusuri kembali langkah penginputan yang dilakukan dan menjelaskan titik kesalahan yang menyebabkan data tidak tersimpan dengan sempurna.

Ketika ada peserta yang belum memahami menu pemantauan layanan, proses pengisian langsung dipraktikkan menggunakan data manual Posyandu yang memang selama ini dipegang masing-masing kader.

Semua persoalan yang muncul dibahas langsung melalui aplikasi e-HDW saat itu juga.

Tidak ada materi teoritis yang terlalu panjang.

Pendamping sengaja mengubah proses belajar menjadi ruang pemecahan masalah nyata agar seluruh kader memahami persoalan yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Baca Juga : TPP Ampek Angkek Perkuat Sinergi Pendampingan Nagari di Panampuang dan Lambah

e-HDW adalah Sistem Kerja Digital yang Tetap Ditopang Data Manual Kader

Dalam sesi pendampingan, peserta juga kembali diingatkan bahwa e-HDW bukan sekadar aplikasi pelaporan, melainkan sistem kerja resmi yang memang disiapkan untuk membantu KPM melaksanakan tugas pemantauan pembangunan manusia secara digital.

Namun pendamping menegaskan bahwa aplikasi ini tidak menggantikan kerja kader di lapangan.

Data utama tetap berasal dari pencatatan manual yang dilakukan setiap kader saat Posyandu berlangsung. Data manual inilah yang kemudian menjadi dasar penginputan digital sehingga kualitas data yang dilaporkan tetap terjaga.

Dengan cara ini, sistem digital dan kerja lapangan kader saling melengkapi.

Baca Juga : TPP Ampek Angkek Hadiri Dua Rembug Stunting Sekaligus, Komitmen Bersama Menekan Angka Stunting di Nagari

Ketika Pendampingan Melahirkan Kepercayaan Diri Baru

Menjelang akhir kegiatan, suasana aula terasa jauh lebih cair dibanding awal pertemuan.

Peserta yang sebelumnya dipenuhi keraguan mulai terlihat antusias setelah berbagai persoalan yang selama ini mereka hadapi akhirnya terjawab satu per satu.

Salah seorang kader kemudian menyampaikan:

"Sekarang kami jadi lebih paham. Ternyata masalahnya bisa dicari langsung saat aplikasi dibuka bersama. Selama ini kami berhenti karena tidak tahu di mana letak kesalahannya."

Di akhir kegiatan, seluruh peserta menyepakati bahwa setelah pelaksanaan Posyandu setiap bulan, data manual yang dikumpulkan kader akan langsung diperbarui dan dilanjutkan dengan penginputan rutin melalui aplikasi e-HDW.

Nagari Lambah hari itu memberi pembelajaran sederhana tetapi sangat penting.

Digitalisasi desa tidak akan berhasil hanya karena adanya aplikasi.

Sistem hanya akan berjalan ketika masyarakat yang menggunakannya diberi ruang belajar, dibimbing menghadapi persoalan nyata, dan didampingi sampai mereka benar-benar mampu menjalankannya sendiri.

Karena peran pendamping sejatinya bukan mengambil alih pekerjaan masyarakat, melainkan membantu memastikan kapasitas lokal tumbuh, pengetahuan bertambah, dan perubahan dapat dijalankan secara mandiri serta berkelanjutan.

Posting Komentar

0 Komentar