TPP Agam - Nagari Ampek Angkek : Rembug Stunting Nagari Batu Taba bukan sekadar agenda rutin tahunan, tetapi menjadi ruang bersama untuk menyatukan komitmen seluruh unsur masyarakat dalam menyiapkan masa depan generasi yang lebih sehat. Kegiatan yang dilaksanakan pada 18 Mei 2026 di Aula Nagari Batu Taba ini menghadirkan berbagai pihak, mulai dari unsur Kecamatan Ampek Nagari, Wali Nagari Batu Taba, Ketua Bamus Nagari Batu Taba, TPP Ampek Angkek, pendamping KB, bidan desa, kader Posyandu, kader KPM hingga tokoh masyarakat.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk membahas berbagai program prioritas yang akan dimasukkan dalam RKP Nagari Batu Taba Tahun 2027. Tidak hanya membicarakan angka dan program, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bersama bahwa persoalan stunting tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan gotong royong, perhatian bersama, dan keberlanjutan pendampingan agar anak-anak di Nagari Batu Taba dapat tumbuh sehat dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Rembug Stunting Nagari Batu Taba Jadi Ruang Menyatukan Komitmen
Sejak pagi, Aula Nagari Batu Taba mulai dipenuhi peserta dari berbagai unsur masyarakat. Kehadiran banyak pihak dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa isu stunting masih menjadi perhatian utama yang membutuhkan keterlibatan bersama.
Rembug stunting bukan hanya forum diskusi formal, melainkan wadah untuk mendengarkan kondisi riil di lapangan. Dalam pertemuan tersebut juga disampaikan bahwa jumlah anak stunting di Nagari Batu Taba saat ini tercatat sebanyak 27 orang. Data tersebut menjadi perhatian serius seluruh pihak karena menunjukkan perlunya langkah penanganan dan pencegahan yang lebih terarah dan berkelanjutan. Dalam suasana yang hangat dan penuh keterbukaan, para peserta menyampaikan berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat, mulai dari pola asuh anak, pemenuhan gizi keluarga, hingga pentingnya edukasi kesehatan bagi ibu hamil dan balita.
Wali Nagari Batu Taba dalam sambutannya menegaskan bahwa penanganan stunting harus menjadi gerakan bersama yang dimulai dari keluarga.
“Persoalan stunting bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi tanggung jawab kita bersama. Nagari harus hadir memastikan anak-anak tumbuh sehat dan mendapatkan perhatian yang layak,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari peserta yang hadir. Mereka menyadari bahwa keberhasilan penanganan stunting tidak cukup hanya dengan program sesaat, tetapi membutuhkan komitmen jangka panjang dan dukungan lintas sektor.
Ketua Bamus Nagari Batu Taba dalam kesempatan tersebut juga menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kondisi stunting yang ada di nagari.
“Kondisi stunting yang ada perlu dievaluasi dan dipetakan dengan baik. Kita harus mengetahui apa permasalahan yang dihadapi masing-masing keluarga sehingga penanganannya bisa dibedakan sesuai kebutuhan,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk semua keluarga. Setiap kasus memiliki latar belakang dan persoalan yang berbeda, sehingga membutuhkan strategi pendampingan yang lebih tepat sasaran.
Program Prioritas RKP Nagari Batu Taba Tahun 2027
Salah satu fokus utama dalam kegiatan Rembug Stunting Nagari Batu Taba adalah pembahasan program prioritas yang akan dimasukkan ke dalam RKP Nagari Tahun 2027. Berbagai usulan muncul berdasarkan kebutuhan masyarakat dan hasil pendampingan yang selama ini dilakukan.
Beberapa program yang menjadi perhatian antara lain penguatan layanan Posyandu, peningkatan edukasi kesehatan ibu dan anak, pemberian makanan tambahan bagi balita berisiko stunting, serta peningkatan kapasitas kader kesehatan di tingkat nagari.
Selain itu, peserta juga membahas pentingnya dukungan sanitasi lingkungan dan akses air bersih sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting. Sebab, persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan pola hidup sehat masyarakat.
Pendamping KB dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa edukasi kepada keluarga muda perlu terus diperkuat agar masyarakat memahami pentingnya pencegahan stunting sejak dini.
“Pencegahan stunting harus dimulai sejak calon ibu. Pemahaman tentang gizi, kesehatan reproduksi, dan pola asuh menjadi hal penting yang perlu terus disampaikan kepada masyarakat,” jelasnya.
Diskusi berlangsung aktif karena setiap peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan usulan. Kader Posyandu dan kader KPM juga turut berbagi pengalaman mengenai kondisi keluarga dampingan yang masih membutuhkan perhatian.
TPP Ampek Angkek, Surya Putra, dalam pemaparannya menyampaikan bahwa data stunting memiliki peran penting dalam upaya pencegahan sejak dini.
“Data stunting sangat diperlukan dalam pendataan keluarga berisiko stunting sehingga dapat diperkirakan berapa orang yang berpotensi masuk kategori stunting. Dengan data yang tepat, nagari bisa melakukan antisipasi pencegahan lebih awal,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan 9 layanan konvergensi stunting yang membahas persoalan secara komprehensif. Menurutnya, pembahasan stunting tidak hanya berfokus pada anak, tetapi juga mencakup ibu hamil, ibu hamil risiko tinggi (resti), ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronik (KEK), remaja putri, calon pengantin, hingga keluarga berisiko stunting.
Selain itu, Surya Putra juga mengingatkan pentingnya mengantisipasi faktor 4T dalam keluarga, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu rapat, dan terlalu banyak.
“Sembilan layanan konvergensi stunting harus dibahas tuntas dalam pertemuan triwulan Rumah Desa Sehat sesuai regulasi agar upaya pencegahan bisa berjalan lebih optimal,” tambahnya.
Peran Pendamping dan Kader dalam Pencegahan Stunting
Keberhasilan penanganan stunting di tingkat nagari tidak terlepas dari peran para pendamping dan kader yang selama ini bekerja langsung di tengah masyarakat. Mereka menjadi ujung tombak dalam memberikan edukasi, mendampingi keluarga, serta memastikan layanan kesehatan dapat dijangkau oleh masyarakat.
Dalam kegiatan Rembug Stunting Nagari Batu Taba, para kader menyampaikan bahwa pendekatan yang humanis menjadi salah satu kunci dalam melakukan pendampingan. Tidak sedikit keluarga yang awalnya belum memahami pentingnya pemeriksaan rutin bagi ibu hamil dan balita.
Namun melalui pendekatan yang persuasif dan penuh kesabaran, masyarakat mulai lebih terbuka untuk mengikuti kegiatan Posyandu dan memperhatikan asupan gizi anak.
Salah seorang kader Posyandu mengungkapkan bahwa perubahan kecil yang terjadi di masyarakat menjadi penyemangat bagi para kader untuk terus mendampingi keluarga.
“Ketika melihat ibu-ibu mulai rutin datang ke Posyandu dan lebih memperhatikan makanan anaknya, itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami,” tuturnya.
Kehadiran TPP Ampek Angkek dalam kegiatan ini juga memperkuat sinergi pendampingan di tingkat nagari. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya fokus pada administrasi program, tetapi juga memastikan bahwa setiap usulan kegiatan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Baca Juga : Ketika Data Stunting Berbeda dengan Cerita Warga: Di Antara Angka dan Kenyataan Lapangan
Pentingnya Kolaborasi dalam Penanganan Stunting
Persoalan stunting merupakan tantangan yang kompleks sehingga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Dalam Rembug Stunting Nagari Batu Taba, seluruh pihak yang hadir menyepakati bahwa kerja sama menjadi faktor penting untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting.
Kecamatan Ampek Nagari menekankan pentingnya sinkronisasi program antara nagari dan pemerintah kecamatan agar program yang direncanakan dapat berjalan lebih efektif. Dukungan dari berbagai unsur masyarakat juga dinilai sangat penting karena keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga partisipasi masyarakat.
Tokoh masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut turut mengingatkan bahwa budaya gotong royong harus terus dijaga dalam mendukung kesehatan keluarga.
“Kalau persoalan anak-anak ini kita abaikan, maka yang rugi bukan hanya keluarga, tetapi masa depan nagari kita sendiri,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa isu stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan persoalan masa depan generasi. Karena itu, langkah pencegahan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Rembug Stunting sebagai Bentuk Kepedulian terhadap Masa Depan Anak
Pelaksanaan Rembug Stunting Nagari Batu Taba juga menunjukkan bahwa perhatian terhadap tumbuh kembang anak semakin menjadi prioritas di tingkat nagari. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pemerintah nagari bersama seluruh unsur terkait terus berupaya menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada kesehatan masyarakat.
Melalui forum ini, berbagai masukan dari masyarakat dapat dihimpun untuk menjadi dasar penyusunan program yang lebih tepat sasaran. Pendekatan partisipatif seperti ini penting agar program yang direncanakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Selain membahas program prioritas, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran bersama bahwa penanganan stunting memerlukan proses yang berkelanjutan. Edukasi kepada keluarga, peningkatan layanan kesehatan, hingga penguatan peran kader harus terus dilakukan secara konsisten.
Suasana diskusi yang penuh semangat dalam kegiatan tersebut memperlihatkan adanya harapan besar agar angka stunting di Nagari Batu Taba dapat terus ditekan. Semangat kebersamaan yang terbangun menjadi modal penting dalam memperkuat gerakan pencegahan stunting di masa mendatang.
Baca Juga : Data SDGs Desa Ada, Tapi Jarang Dipakai: Catatan tentang Angka yang Kehilangan Makna
Menguatkan Komitmen Bersama untuk Generasi yang Lebih Sehat
Rembug Stunting Nagari Batu Taba yang dilaksanakan pada 18 Mei 2026 bukan hanya menjadi agenda musyawarah biasa, tetapi menjadi langkah nyata dalam memperkuat komitmen bersama untuk melindungi masa depan generasi.
Kegiatan ini memperlihatkan bahwa penanganan stunting membutuhkan sinergi antara pemerintah nagari, tenaga kesehatan, pendamping, kader, dan masyarakat. Ketika semua pihak bergerak bersama, harapan untuk menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas menjadi semakin terbuka.
Melalui pembahasan program prioritas dalam RKP Nagari Batu Taba Tahun 2027, diharapkan berbagai upaya pencegahan stunting dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan. Pendampingan yang humanis, edukasi yang konsisten, serta keterlibatan aktif masyarakat menjadi fondasi penting dalam menghadapi persoalan stunting.
Pada akhirnya, rembug stunting bukan hanya tentang menyusun program, tetapi tentang menjaga harapan agar setiap anak di Nagari Batu Taba dapat tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki masa depan yang lebih baik. Semangat kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap generasi masa depan masih hidup dan terus dijaga di tengah masyarakat.



0 Komentar