TPP Agam - Batu Taba : Upaya membangun ketahanan pangan di tingkat nagari tidak cukup hanya dengan semangat dan modal. Dibutuhkan pengelolaan yang matang, evaluasi yang terbuka, serta kerja sama semua pihak agar program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Hal inilah yang terlihat dalam kegiatan evaluasi Unit Usaha Ketahanan Pangan yang dijalankan oleh BUMNag Sukatan Nagari Batu Taba, Kecamatan Ampek Angkek.
Kegiatan evaluasi tersebut dilaksanakan pada 8 Mei 2025 di Kantor Nagari Batu Taba dengan menghadirkan seluruh mitra pelaksana usaha, pengurus dan pengawas BUMNag Sukatan, Wali Nagari Batu Taba, serta TPP Ampek Angkek. Pertemuan ini menjadi ruang bersama untuk melihat sejauh mana usaha pertanian yang dijalankan mampu berkembang, sekaligus mencari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan.
Program ketahanan pangan yang dijalankan BUMNag Sukatan merupakan usaha produksi pertanian yang dikelola bersama kelompok mitra bernama Petani Milenial. Jenis tanaman yang dikembangkan meliputi cabai, tomat, dan bawang. Ketiga komoditas tersebut dipilih karena memiliki kebutuhan pasar yang tinggi dan menjadi bagian penting dalam kebutuhan pangan masyarakat sehari-hari.
Dengan dukungan penyertaan modal sebesar Rp111 juta yang dialokasikan untuk kegiatan ketahanan pangan tahun 2025, BUMNag Sukatan berharap program ini mampu menjadi salah satu unit usaha produktif yang memberi dampak ekonomi bagi masyarakat nagari.
Evaluasi Unit Usaha Pertanian BUMNag Sukatan Batu Taba Jadi Ruang Belajar Bersama
Suasana evaluasi berlangsung terbuka dan penuh diskusi. Para mitra pelaksana menyampaikan kondisi usaha yang mereka jalankan, mulai dari perkembangan tanaman, kendala cuaca, biaya produksi, hingga tantangan pemasaran hasil panen.
Direktur BUMNag Sukatan Nagari Batu Taba, Muhammad Irfan, menegaskan bahwa kegiatan evaluasi bukan sekadar mencari kesalahan, tetapi menjadi bagian penting dalam memperbaiki pengelolaan usaha ke depan.
“"Kegiatan ini adalah evaluasi atas unit usaha yang dijalankan selama ini. Apa pun permasalahan yang ada, kita pecahkan bersama,"” ujar Muhammad Irfan di hadapan peserta evaluasi.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pengelolaan usaha ketahanan pangan tidak bisa dibebankan hanya kepada satu pihak. Dibutuhkan komunikasi yang terbuka agar setiap persoalan dapat diselesaikan secara bersama-sama.
Dalam diskusi yang berkembang, masing-masing mitra menyampaikan pengalaman mereka selama menjalankan usaha pertanian. Ada yang menghadapi kendala harga pupuk, serangan hama, hingga cuaca yang tidak menentu. Namun di sisi lain, beberapa mitra juga mulai merasakan hasil dari usaha yang dijalankan, terutama dalam meningkatkan pengalaman bertani secara lebih terorganisir.
Pertemuan tersebut kemudian menghasilkan sejumlah catatan evaluasi yang nantinya menjadi dasar perbaikan pengelolaan unit usaha ketahanan pangan BUMNag Sukatan.
Baca Juga : 7 Kesalahan Pengelolaan BUMDes yang Sering Terjadi
Ketahanan Pangan Nagari Batu Taba Dibangun Lewat Pertanian Produktif
Program ketahanan pangan yang dijalankan BUMNag Sukatan bukan hanya berbicara tentang menanam cabai, tomat, dan bawang. Lebih dari itu, program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian.
Keberadaan kelompok Petani Milenial menjadi salah satu pendekatan menarik dalam program ini. Keterlibatan generasi muda dalam usaha pertanian menunjukkan bahwa sektor pertanian masih memiliki peluang besar apabila dikelola dengan serius dan didukung pendampingan yang baik.
Di tengah tantangan semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian, langkah BUMNag Sukatan menggandeng Petani Milenial menjadi sinyal positif bahwa pertanian tetap memiliki masa depan.
Selain itu, pemanfaatan dana ketahanan pangan melalui unit usaha pertanian juga diharapkan mampu memberikan efek berganda bagi masyarakat. Tidak hanya menghasilkan keuntungan usaha, tetapi juga menjaga ketersediaan komoditas pangan di tingkat nagari.
Wali Nagari Batu Taba, Rahmat Hidayat, dalam kesempatan tersebut berharap penyertaan modal yang diberikan dapat berkembang dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
“"Kita berharap penyertaan modal yang sudah diberikan dapat berkembang ke depannya dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,"” ungkap Rahmat Hidayat.
Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa dana yang dialokasikan untuk ketahanan pangan bukan sekadar anggaran yang harus dihabiskan, tetapi amanah yang harus dikelola secara bertanggung jawab.
Baca Juga : 5 Jenis Usaha yang Berhasil Dikelola BUMDes, Bukan Ikut Tren
Pendampingan TPP Ampek Angkek Perkuat Tata Kelola Dana Ketahanan Pangan
Dalam kegiatan evaluasi tersebut, TPP Ampek Angkek juga memberikan penguatan terkait regulasi pengelolaan dana ketahanan pangan. Pendampingan ini menjadi penting agar pengelolaan usaha tetap berjalan sesuai aturan dan tujuan program.
TPP Ampek Angkek, Indra Nofiardi, menjelaskan bahwa penggunaan dana ketahanan pangan memiliki mekanisme yang berbeda dengan penyertaan modal reguler untuk kegiatan BUMNag.
“"Regulasi penggunaan dana untuk ketahanan pangan berbeda dengan penyertaan modal kegiatan BUMNag reguler. Karena itu perlu dipastikan bagaimana pengelolaan dana ketahanan pangan yang sudah berjalan,"” jelas Indra Nofiardi.
Penjelasan tersebut memberikan pemahaman kepada seluruh peserta bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari bagaimana tata kelola administrasi dan pengelolaan keuangan dijalankan secara tertib.
Pendampingan yang dilakukan TPP Ampek Angkek juga menjadi bagian penting dalam memastikan program ketahanan pangan tetap berada pada jalur yang tepat. Sebab dalam praktiknya, banyak program ekonomi desa yang terkendala bukan hanya karena faktor usaha, tetapi juga lemahnya administrasi dan pengawasan.
Karena itu, evaluasi seperti ini menjadi momentum penting untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan unit usaha nagari.
Tantangan Petani Milenial dalam Mengembangkan Usaha Pertanian
Di balik semangat membangun ketahanan pangan, para mitra Petani Milenial juga menghadapi berbagai tantangan nyata di lapangan. Pertanian tidak hanya soal menanam dan menunggu panen. Ada banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan usaha.
Harga sarana produksi yang terus berubah, kondisi cuaca yang sulit diprediksi, hingga risiko gagal panen menjadi persoalan yang sering dihadapi petani. Belum lagi fluktuasi harga pasar yang kadang membuat hasil panen tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan.
Meski demikian, semangat untuk terus belajar dan memperbaiki usaha tetap terlihat dalam forum evaluasi tersebut. Para mitra menyadari bahwa usaha pertanian membutuhkan proses panjang dan konsistensi.
Diskusi yang berlangsung juga menunjukkan bahwa para pelaku usaha mulai memahami pentingnya pencatatan usaha dan pengelolaan keuangan. Hal ini menjadi langkah awal yang baik dalam membangun usaha pertanian yang lebih profesional.
BUMNag Sukatan sendiri diharapkan tidak hanya berperan sebagai penyedia modal, tetapi juga menjadi lembaga yang mampu memperkuat jaringan pemasaran, memberikan pendampingan usaha, serta membangun kerja sama yang dapat mendukung keberlanjutan program.
Menyiapkan Laporan Keuangan sebagai Bentuk Transparansi
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan evaluasi, BUMNag Sukatan bersama para mitra akan menyiapkan laporan keuangan terkait kegiatan ketahanan pangan yang telah berjalan.
Laporan tersebut nantinya akan disampaikan dalam Musyawarah Nagari (Musna) yang direncanakan dilaksanakan pada bulan Mei 2025. Langkah ini menjadi bagian penting dalam menjaga transparansi pengelolaan dana serta memastikan masyarakat mengetahui perkembangan program yang sedang dijalankan.
Penyusunan laporan keuangan juga menjadi bentuk tanggung jawab bersama agar setiap penggunaan dana dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Transparansi seperti ini sangat penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan usaha nagari.
Di sisi lain, forum Musna nantinya juga diharapkan menjadi ruang evaluasi yang lebih luas dengan melibatkan unsur masyarakat dalam melihat perkembangan unit usaha ketahanan pangan.
Evaluasi Menjadi Kunci Keberlanjutan Unit Usaha Ketahanan Pangan
Kegiatan evaluasi Unit Usaha Pertanian BUMNag Sukatan Nagari Batu Taba menunjukkan bahwa membangun ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan menyediakan modal usaha. Diperlukan pendampingan, pengawasan, keterbukaan, dan kemauan untuk terus belajar dari setiap persoalan yang muncul.
Pertemuan yang berlangsung di Kantor Nagari Batu Taba pada 8 Mei 2025 tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan usaha nagari membutuhkan kerja bersama. Kehadiran pengurus, pengawas, pemerintah nagari, mitra pelaksana, hingga TPP Ampek Angkek menunjukkan adanya komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan program.
Harapan besar tentu tertuju pada bagaimana unit usaha ini mampu berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Jika dikelola dengan baik, program ketahanan pangan tidak hanya membantu menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat nagari.
Lebih dari sekadar evaluasi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap proses pembangunan desa membutuhkan ruang dialog dan perbaikan bersama. Dari sawah dan ladang yang dikelola para Petani Milenial di Nagari Batu Taba, tumbuh harapan tentang pertanian yang lebih kuat, mandiri, dan berkelanjutan untuk masa depan nagari.


0 Komentar