TPP Agam - Koto Kaciak : Pada 7 April 2026, suasana Kantor BUMNag Lubuak Bakilek Malam Koto Kaciak terasa lebih hidup dari biasanya. Sejumlah pengurus BUMNag bersama Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Tanjung Raya berkumpul dalam satu ruang, bukan sekadar untuk rapat rutin, tetapi untuk menjalani sebuah proses penting: pendampingpemeringkatan BUMDes.
Kegiatan
ini bukan hanya bersifat administratif. Lebih dari itu, pemeringkatan menjadi
alat refleksi bersama—mengukur sejauh mana BUMNag telah berjalan, sekaligus
membuka ruang perbaikan untuk masa depan. Dalam konteks pembangunan desa,
BUMDes (atau BUMNag di Sumatera Barat) adalah jantung ekonomi lokal. Maka,
memastikan kualitas pengelolaannya menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Pendampingan Pemeringkatan BUMDes sebagai Instrumen
Evaluasi
Pendampingan
pemeringkatan BUMDes pada dasarnya adalah proses sistematis untuk menilai
kinerja kelembagaan, usaha, dan dampak ekonomi yang dihasilkan oleh BUMNag.
Dalam kegiatan ini, TPP Tanjung Raya berperan sebagai fasilitator yang membantu
pengurus memahami indikator penilaian secara utuh.
Indikator
tersebut meliputi aspek kelembagaan, legalitas, administrasi, pengelolaan
usaha, hingga kontribusi terhadap masyarakat. Semua ini dirancang agar BUMNag
tidak hanya berjalan, tetapi juga berkembang secara sehat dan berkelanjutan.
Salah
satu anggota TPP, Achmat Aspiin menyampaikan dalam sesi diskusi:
“Pemeringkatan ini bukan untuk mencari siapa yang paling baik, tapi untuk melihat di mana posisi kita sekarang dan ke mana kita harus melangkah.”
Pernyataan
ini menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan bersifat konstruktif, bukan
kompetitif. Fokusnya adalah pembelajaran dan penguatan kapasitas.
Dinamika Pendampingan di BUMNag Lubuak Bakilek
Selama
proses pendampingan berlangsung, interaksi antara pengurus BUMNag dan TPP
berjalan aktif. Pengurus tidak hanya mendengarkan, tetapi juga terlibat dalam
diskusi, mengajukan pertanyaan, dan berbagi pengalaman lapangan.
Beberapa
tantangan yang diungkapkan antara lain terkait administrasi yang belum tertata
rapi, keterbatasan sumber daya manusia, serta belum optimalnya pengembangan
unit usaha. Namun, justru dari keterbukaan inilah proses pendampingan menjadi
bermakna.
Direktur
BUMNag Lubuak Bakilek Malam Koto Kaciak mengungkapkan:
“Selama ini kami berjalan seadanya. Dengan adanya pendampingan ini, kami jadi tahu apa saja yang harus dibenahi dan bagaimana cara melakukannya.”
Pernyataan
tersebut mencerminkan kesadaran baru yang muncul dari proses pendampingan—bahwa
pengelolaan BUMNag membutuhkan sistem, bukan sekadar niat baik.
Mengurai Indikator Pemeringkatan BUMDes Secara
Sederhana
Salah
satu tantangan dalam pendampingan adalah bagaimana menyederhanakan indikator
pemeringkatan yang cukup kompleks agar mudah dipahami oleh pengurus. Dalam
kegiatan ini, TPP menggunakan pendekatan komunikatif dan membumi.
Misalnya,
dalam menjelaskan aspek kelembagaan, pendamping tidak hanya berbicara tentang
struktur organisasi, tetapi juga tentang bagaimana peran masing-masing pengurus
berjalan dalam praktik sehari-hari.
Begitu
pula dalam aspek usaha, diskusi tidak berhenti pada jenis usaha yang dimiliki,
tetapi juga pada pertanyaan kritis seperti: apakah usaha tersebut benar-benar
memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat?
Pendekatan
ini membuat pengurus tidak merasa “diuji”, melainkan diajak berpikir bersama.
Baca Juga : Pemeringkatan BUMDes 2026: Bukan 5, Ini 7 Aspek Penilaiannya
Pendampingan Pemeringkatan BUMDes dan Penguatan
Kapasitas Lokal
Lebih
jauh, pendampingan ini juga menjadi ruang penguatan kapasitas lokal. Pengurus
BUMNag didorong untuk memahami pentingnya pencatatan keuangan yang transparan,
perencanaan usaha yang matang, serta evaluasi berkala.
TPP
Tanjung Raya menekankan bahwa keberhasilan BUMNag tidak hanya diukur dari
keuntungan finansial, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat.
Salah
satu pengurus menyampaikan refleksinya:
“Kami baru sadar bahwa BUMNag ini bukan hanya untuk mencari untung, tapi juga untuk membantu masyarakat. Jadi cara berpikir kami harus berubah.”
Perubahan
cara pandang ini menjadi salah satu hasil penting dari pendampingan. Ketika
pengurus mulai melihat BUMNag sebagai instrumen pembangunan sosial-ekonomi,
maka arah pengelolaan pun menjadi lebih strategis.
Tantangan dan Peluang dalam Pengembangan BUMNag
Dalam
diskusi yang berlangsung, juga teridentifikasi sejumlah tantangan yang dihadapi
BUMNag Lubuak Bakilek Malam Koto Kaciak. Di antaranya adalah keterbatasan
modal, minimnya inovasi usaha, serta belum optimalnya kolaborasi dengan pihak
lain.
Namun di
balik tantangan tersebut, terdapat peluang besar. Potensi lokal yang dimiliki
nagari, baik dari sisi sumber daya alam maupun sosial, sebenarnya cukup
menjanjikan untuk dikembangkan menjadi unit usaha produktif.
Pendamping
menekankan pentingnya menggali potensi tersebut secara lebih sistematis dan
berbasis data. Selain itu, penguatan jejaring dengan pihak luar juga menjadi
kunci untuk memperluas akses pasar dan sumber daya.
Baca Juga : Pemeringkatan BUMDes dan BUMDes Bersama Tahun 2026 Resmi Dibuka
Refleksi Bersama: Dari Penilaian Menuju Perbaikan
Di akhir
kegiatan, suasana reflektif terasa kuat. Pengurus dan pendamping bersama-sama
merangkum hasil diskusi dan mengidentifikasi langkah-langkah perbaikan yang
perlu dilakukan ke depan.
Pendamping
menegaskan bahwa pemeringkatan bukanlah akhir dari proses, melainkan awal dari
perubahan. Hasil penilaian harus ditindaklanjuti dengan rencana aksi yang
konkret.
Salah
satu anggota TPP Tanjung Raya, Surya Putra menyampaikan:
“Yang terpenting bukan nilai yang didapat, tetapi apa yang kita lakukan setelah mengetahui nilai tersebut.”
Pernyataan
ini menjadi penutup yang kuat sekaligus pengingat bahwa esensi dari
pendampingan adalah transformasi.
Penutup: Menguatkan Langkah Menuju BUMNag yang
Berdaya
Kegiatan
pendampingan pemeringkatan BUMDes di BUMNag Lubuak Bakilek Malam Koto Kaciak pada
7 April 2026 menunjukkan bahwa proses pendampingan yang baik bukan hanya
mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran dan komitmen.
Melalui
pendekatan yang humanis, dialogis, dan reflektif, pengurus BUMNag tidak hanya
memahami indikator pemeringkatan, tetapi juga mulai melihat peran strategis
mereka dalam pembangunan nagari.
Ke depan,
tantangan tentu masih ada. Namun dengan bekal pemahaman yang lebih baik dan
dukungan dari TPP Tanjung Raya, langkah menuju BUMNag yang mandiri,
profesional, dan berdampak nyata bagi masyarakat menjadi semakin terbuka.
Pendampingan
ini bukan sekadar kegiatan satu hari, melainkan bagian dari proses panjang
membangun kemandirian desa dari dalam. Dan seperti yang tercermin dari semangat
para pengurus, perubahan itu telah dimulai.


0 Komentar