Nagari Kapau - TPP Agam : Keberhasilan sebuah Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal atau banyaknya unit usaha yang dimiliki. Yang tidak kalah penting adalah kemauan untuk belajar dari pengalaman, membangun jejaring, dan saling berbagi praktik baik. Semangat itulah yang mewarnai kegiatan Koordinasi Pendampingan BUMNag yang dilaksanakan pada 16 Juli 2026 di Kantor BUMNag Kapau.
Kegiatan ini mempertemukan pengurus BUMNag Kapau, BUMNag Batu Taba, dan BUMNag Biaro Gadang. Pertemuan difasilitasi oleh Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Ampek Angkek dan Kecamatan Tilatang Kamang sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas BUMNag dalam mengembangkan usaha yang berkelanjutan.
Berbeda dengan forum formal yang dipenuhi paparan teori, koordinasi kali ini berlangsung dalam suasana santai namun penuh makna. Setiap peserta saling bertukar pengalaman, mendiskusikan tantangan, hingga membahas peluang kerja sama yang sedang berkembang di tingkat nagari.
Koordinasi Pendampingan BUMNag Berangkat dari Praktik Nyata
Salah satu alasan dipilihnya BUMNag Kapau sebagai lokasi kegiatan adalah karena BUMNag tersebut telah lebih dahulu menjalin kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pilubang dalam mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pengalaman tersebut menjadi sumber belajar yang sangat berharga bagi BUMNag lain yang sedang mempersiapkan langkah serupa.
Dalam sesi diskusi, Ketua BUMNag Kapau menjelaskan secara terbuka tahapan yang telah dilalui sejak awal penjajakan hingga kerja sama dapat berjalan.
"Yang paling penting bukan hanya mendapatkan peluang kerja sama, tetapi memastikan seluruh persyaratan administrasi dan mekanisme kerja dipahami sejak awal. Kalau fondasinya kuat, proses berikutnya akan jauh lebih mudah," jelas Ketua BUMNag Kapau.
Pengalaman tersebut memberikan gambaran yang lebih nyata dibandingkan sekadar membaca pedoman atau regulasi. Peserta dapat mengetahui proses yang benar-benar terjadi di lapangan, mulai dari komunikasi awal, penyusunan dokumen, hingga koordinasi dengan berbagai pihak terkait.
Baca Juga : BUMDes di Desa: Antara Harapan Besar dan Kenyataan di Lapangan
Belajar Memahami Mekanisme Kerja Sama dengan Yayasan dan Dapur MBG
Salah satu materi yang paling banyak menarik perhatian peserta adalah penjelasan mengenai mekanisme kerja sama antara BUMNag dengan yayasan pengelola serta dapur MBG.
Ketua BUMNag Kapau menjelaskan berbagai dokumen yang perlu dipersiapkan sebelum kerja sama dapat dilaksanakan. Mulai dari legalitas kelembagaan, administrasi usaha, hingga dokumen pendukung lainnya yang menjadi syarat dalam proses kemitraan.
Selain aspek administrasi, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pola komunikasi, pembagian peran, serta mekanisme operasional agar kerja sama berjalan sesuai ketentuan.
Diskusi berlangsung sangat interaktif. Berbagai pertanyaan muncul dari pengurus BUMNag Batu Taba maupun BUMNag Biaro Gadang yang saat ini juga tengah menjajaki peluang kerja sama dengan beberapa SPPG di wilayah lain.
Bagi peserta, informasi tersebut menjadi bekal penting untuk mengurangi kesalahan dalam proses persiapan sekaligus mempercepat langkah yang akan ditempuh di nagari masing-masing.
Baca Juga : Anak Stunting dan Program MBG : Strategi Ganda Negara Menyelamatkan Generasi Desa
Pendamping Berperan Membuka Ruang Kolaborasi
Dalam kegiatan ini, Tenaga Pendamping Profesional tidak mengambil peran sebagai narasumber utama. Sebaliknya, pendamping lebih memfasilitasi lahirnya ruang belajar antarpelaku.
Pendekatan seperti ini menjadi salah satu prinsip penting dalam pendampingan masyarakat. Pengetahuan terbaik sering kali lahir dari pengalaman nyata yang dibagikan secara terbuka oleh sesama pelaku.
TPP Ampek Angkek dan TPP Tilatang Kamang mendorong agar setiap BUMNag tidak berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi tantangan yang relatif sama. Dengan membangun komunikasi yang intensif, pengalaman satu nagari dapat menjadi solusi bagi nagari lainnya.
Pendamping hanya menjadi penghubung, memastikan proses diskusi berjalan produktif, serta membantu mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat ditindaklanjuti setelah kegiatan selesai.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pendampingan bukan diukur dari seberapa dominan peran pendamping, tetapi dari kemampuan masyarakat menemukan solusi bersama melalui proses belajar yang difasilitasi secara baik.
Baca Juga : TPP Kerja Berdampak: Kerja Sunyi Pendamping Desa Mengubah Wajah Desa
Praktik Baik yang Layak Direplikasi oleh Nagari Lain
Salah satu pembelajaran penting dari kegiatan ini adalah pentingnya membangun budaya berbagi praktik baik.
Sering kali setiap nagari menghadapi persoalan yang hampir sama. Namun karena kurangnya ruang komunikasi, solusi yang sebenarnya telah berhasil diterapkan di satu tempat tidak diketahui oleh nagari lainnya.
Melalui koordinasi seperti ini, proses belajar menjadi jauh lebih cepat. Pengurus BUMNag tidak lagi memulai semuanya dari nol, melainkan dapat belajar dari pengalaman yang telah ada, kemudian menyesuaikannya dengan kondisi lokal masing-masing.
"Kami ingin setelah pertemuan ini komunikasi tidak berhenti. Kalau ada kendala di lapangan, kita bisa saling bertanya dan saling membantu," ungkap salah seorang peserta dari BUMNag Batu Taba.
Komitmen tersebut menjadi modal sosial yang sangat penting dalam membangun ekosistem BUMNag yang semakin kuat.
Baca Juga : Mengapa Laporan Keuangan BUMDes Selalu Terlambat?
Tantangan Tetap Ada, Tetapi Kolaborasi Menjadi Kunci
Meskipun peluang kerja sama dengan berbagai SPPG terus berkembang, tantangan tetap tidak bisa diabaikan.
Setiap BUMNag perlu memastikan kesiapan kelembagaan, tata kelola administrasi, kapasitas manajemen usaha, hingga kemampuan memenuhi standar yang dipersyaratkan dalam kerja sama.
Di sisi lain, proses koordinasi lintas lembaga juga membutuhkan komunikasi yang baik agar tidak terjadi kesalahpahaman maupun keterlambatan dalam pelaksanaan.
Karena itu, forum koordinasi menjadi bagian penting dalam proses pendampingan. Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai persoalan dapat didiskusikan sejak awal sehingga solusi dapat ditemukan secara bersama-sama.
Semangat saling melengkapi yang tumbuh dalam pertemuan ini menjadi contoh bahwa pembangunan ekonomi nagari tidak selalu harus dilakukan melalui persaingan. Sebaliknya, kolaborasi justru membuka peluang yang lebih besar bagi seluruh pihak.
Catatan TPP Agam | Dari praktik nyata di lapangan, BUMNag Kapau membuka ruang berbagi pengalaman kepada BUMNag Batu Taba dan BUMNag Biaro Gadang. Pendampingan tidak sekadar mempertemukan para pengelola BUMNag, tetapi membangun jejaring pembelajaran agar semakin banyak nagari mampu menangkap peluang ekonomi melalui kemitraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Koordinasi Pendampingan BUMNag Menjadi Investasi Jangka Panjang bagi Nagari
Kegiatan koordinasi di Kantor BUMNag Kapau bukan sekadar agenda berbagi informasi. Lebih dari itu, pertemuan ini menjadi investasi pengetahuan yang akan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Melalui proses pendampingan yang memfasilitasi pembelajaran antarnagari, setiap BUMNag memperoleh kesempatan untuk memperkuat kapasitas kelembagaan, memahami mekanisme kemitraan secara lebih utuh, serta membangun jejaring yang saling mendukung.
Ke depan, BUMNag Kapau, BUMNag Batu Taba, dan BUMNag Biaro Gadang berkomitmen untuk terus menjaga komunikasi, saling bertukar informasi, serta memperkuat koordinasi dalam mengembangkan peluang usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat nagari.
Pada akhirnya, esensi pendampingan bukanlah menghadirkan solusi instan, melainkan menumbuhkan kemampuan masyarakat untuk belajar, berkolaborasi, dan menemukan jalan terbaik berdasarkan pengalaman nyata. Ketika praktik baik dibagikan dan direplikasi, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh satu nagari, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi nagari-nagari lain dalam membangun BUMNag yang profesional, mandiri, dan mampu menjadi penggerak ekonomi lokal.
Baca Juga : BUMDes Ketahanan Pangan: Strategi Desa Menuju Kemandirian Pangan

0 Komentar